Pemkab Bogor Sulap Ikan Sapu-Sapu untuk Penghijauan RTH
Pemerintah Kabupaten Bogor mengolah ratusan kilogram ikan sapu-sapu hasil tangkapan di Situ Citatah menjadi pupuk organik tinggi protein untuk penghijauan RTH.
bogor – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, Jawa Barat, mengambil langkah inovatif dalam memulihkan lingkungan perairan dengan mengolah ikan sapu-sapu hasil tangkapan di Situ Citatah, Cibinong, menjadi pupuk organik. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pengendalian spesies invasif yang merusak ekosistem setempat.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Dede Armansyah, menegaskan bahwa ikan sapu-sapu yang berhasil dijaring tidak akan dibuang sia-sia atau sekadar dikubur, melainkan dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yang matang.
“Jadi tidak ada yang dikubur. Jadi, sapu-sapu ini nanti dicacah, kemudian difermentasi untuk menjadi pupuk. Tempatnya sudah kita siapkan di Pondok Rajeg,” kata Dede di Cibinong, Rabu (20/5/2026).
Dede menjelaskan, pupuk organik hasil olahan tersebut nantinya akan digunakan sebagai nutrisi untuk menyuburkan pohon-pohon kayu di berbagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) di seluruh wilayah Kabupaten Bogor.
Namun, pupuk dari ikan sapu-sapu ini tidak diperuntukkan bagi tanaman buah, melainkan khusus mendukung penghijauan kawasan terbuka karena karakteristik kandungannya.
“Pupuk ini bagus karena memiliki protein tinggi,” ujarnya menambahkan.
Sebelumnya, Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan para pegiat lingkungan turun langsung ke Situ Citatah. Aksi ini bertujuan untuk menangkap ikan sapu-sapu demi menjaga keseimbangan ekosistem perairan sekaligus memetakan sedimentasi yang kerap menjadi pemicu banjir.
Kegiatan pelestarian ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang tahun ini difokuskan pada isu lingkungan hidup dan penyelamatan sumber daya air.
“Hari ini jelang HJB kita memang ada beberapa rangkaian kegiatan terutama yang menyangkut terkait lingkungan,” kata Rudy.
Rudy mengungkapkan, jajaran pemerintah daerah sengaja terjun langsung ke perairan untuk memantau kondisi riil situ secara objektif, mulai dari tingkat kedangkalan akibat sedimentasi hingga masalah penumpukan sampah yang memicu banjir di wilayah hilir.
“Tadi kenapa kita turun langsung ke air? Kita ingin memastikan, oh ternyata sedimentasi cukup tinggi, sampah cukup banyak. Kewajiban dan tanggung jawab kita bersama untuk kita bersihkan bersama, kita rawat bersama-sama,” tegasnya.
Hanya dalam waktu sekitar satu hingga dua jam, aksi bersih-bersih lingkungan tersebut berhasil menjaring lebih dari 200 kilogram ikan sapu-sapu dari dalam situ.
“Sekitar lebih dari 200 kilogram hanya hitungan satu jam dua jam,” ungkap Rudy.
Menyongsong Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026 mendatang, Pemkab Bogor juga telah menyiapkan sejumlah agenda lanjutan. Beberapa di antaranya meliputi aksi penanaman pohon secara masif hingga pelepasan kembali indukan ikan lokal di kawasan hulu sungai.
Langkah pengendalian satwa air ini mendapat dukungan penuh dari para aktivis lingkungan. Karakteristik ikan sapu-sapu sebagai spesies asing invasif dinilai berbahaya bagi populasi ikan lokal jika populasinya dibiarkan tidak terkendali.
“Sapu-sapu kan ikan invasif, jadi memang harus dikontrol karena kalau dibiarkan akan merusak ekosistem,” pungkas pegiat lingkungan, Arief Kamarudin. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

